Di kota metropolitan seperti Jakarta ini, pastinya sudah tidak asing dengan yang namanya sampah. Ya kota yang digemari siapapun ini kerap mendapatkan musibah yang sering terjadi dan terus menerus. Salah satu penyebabnya adalah sampah.
Segelintir orang selalu menganggap sampah adalah hal yang sangat sepele.misalnya di halte bus, sambil meunggu bus datang sambil memakan permen. Dan bungkusnya seenaknya ditinggal sembarang. Bungkusnya memang kecil tetapi dampaknya? Kalau satu orang memakan permen sebanyak 5 dan ada dalam sehari ada 100 orang yang bergantian menunggu bus dan melakukan hal yang sama yaitu membuang bungkus permen sembarangan, bayangkan betapa banyaknya bungkusan-bungkusan permen tadi berterbangan di area jalan raya dan memasuki ke keselokan selokan jalan. Itu baru sehari, belum seminggu sebulan bahkan bertahun tahun. Ups iya, bukankah banyak petugas-petugas penyapu jalanan? Yap! Mereka memang banyak, tapi menyapu pelastik yang ringan bukanlah hal yang mudah. Jika saja saat mereka sudah bersusah payah mengumpulkan semua sampah-sampah itu menjadi satu dan tiba-tiba saja angin menerbangkan semuanya. Ouch! Harus sampai kapan pekerjaan itu selesai? Apa salahnya kita membuang sampah pada tempatnya? Selain membantu para petugas-petugas mulia itu,kita juga menyelamatkan bumi kita sendiri.
Ini baru bungkus permen, belum sampah-sampah lain yang banyak menimbulkan dampak negatif. Apa upaya yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan bumi? Yang konon kini marak tersebar isu atau gosip-gosip yang mengatakan KIAMAT 'sebentar lagi' . Dampak yang terjadi memang kian di rasakan. Mungkin ini sudah terlambat tapi bukankan terlambat lebih baik dari pada tidak sama sekali. Okey ada sebuah cerita yang akan saya bawakan disini.
*****
Sebuah keluarga sederhana tinggal di salah satu perkampungan kumuh di Jakarta, tempat dimana meraka bergaul dengan sampah-sampah jenis apapun. Sinar adalah putri dari Galih dan Ratna yaitu pasangan suami istri yang bekerja sebagai pemungut sampah. Dulu saat masih tinggal di desa mereka tidak perlu bekerja seperti ini karna di sana semuanya begitu terlihat bersih dan indah, tetapi sejak Sinar beranjak ke Sekolah Menengah Pertama dan adiknya yang bernama Bintang berumur 7tahun mulai masuk Sekolah Dasar, entah kenapa ada sesuatu mendorong sang ayah untuk merantau ke Jakarta. Bukannya mereka hidup bahagia tetapi justru sebagai tukang sampah. Sang istri sempat bertanya kepada suaminya “Kenapa kamu bawa aku dan anak kita untuk tinggal di tempat seperti ini? Bukankah di desa lebih baik daripada di Kota?” dan biasanya sang suami hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan amat santai. Ratna tau betul suaminya seperti ada dan dia yakin pasti ada rencana baik di balik ini semua maka dari itu dia hanya menuruti apa yang dikatakan suaminya, paling Bintang yang suka rewel dengan keadaan ini, Bintang memang sangat berbeda dengan Kakanya yang lebih pendiam dan apa adanya.
Setiap harinya pasangan suami istri ini pergi membawa karung besar kosong dan pulang dengan karung-karung yang penuh dengan sampah dan biasanya sepulang sekolah Sinar turut membantu memilah-milih barang bekas tersebut, sedangkan Bintang biasanya dia asik main bola bersama teman-temannya.
Suatu hari ketika di sekolah, siswa-siswi kelas 1 SMP diminta mengisikan biodata mereka sebagai data di sekolah, dan yang pasti di dalam biodata itu ada pekerjaan orang tua. Teman-teman Sinar sudah selesai saat itu juga dan tanpa malu membiarkan orang lain melihat asal-usul keluarganya. Sedangkan Sinar masih menatapi lembaran yang masih bersih dari tinta pulpen. Untunglah seorang murid bertanya “Pak biodatanya boleh dibawa pulang tidak?” dan sang guru menjawab “Iya boleh, paling lambat lusa di kumpulkan ya” . Seketika wajah Sinar langsung berseri-seri lega.
Ketika sampai dirumah, malam harinya Sinar mengeluarkan secarik kertas dengan ragu, saat itu sang ayak sedang asyik membaca koran-koran bekas hasil pungutannya.
“Ayah” panggil Sinar. Sang ayah hanya berdehem menanggapi Sinar.
“Ih ayah, bantu Sinar isi biodata yah”
“Biodata apa? Coba ayah lihat”
lalu Sinar memberikan lembaran itu ke ayahnya. Setelah beberapa menit ayahnya membaca kertas itu dikembalikan ke Sinar.
“Masa kamu isi biodata seperti itu saja tidak bisa?”
“Bukan gitu yah, tapiiiii” Sinar menunduk, takut perkataannya nanti menyinggung ayahnya.
“Tapi apa?”
“Maaf yah, Sinar mesti isi apa di kolom ini?” sambil menunjuk kolom berisi tulisan 'pekerjaan orang tua'
“Ya menurut mu pekerjaan ayah ini apa?”
“Pemungut sampah” dengan polosnya
“Ya sudah. Memang kamu mau menulis pejabat?”
“Pejabat sampah” celetuk Bintang
“Hus! Bintang ngga sopan kamu bicara seperti itu ke ayah”
“Emang kenyataannya kok Ka”
“Sopan ya sama orang tua”
“Hahaha sudah-sudah kenapa kalian yang ribut? Memangnya kenapa kalo ayah ini tukang sampah dan Bintang bilang ayah pejabat sampah? Haha kalian malu dengan pekerjaan ayah?” sang ayah malah tertawa.
“Eng..engga kok yah. Sinar ngga malu. Kan ayah bilang pekerjaan ayah ini pekerjaan mulia dan tidak menghasilkan uang haram”
“Bagus kalau kamu tau. Bintang gimana? Malu punya ayah pejabat sampah?”
“Habis temen Bintang pekerjaan ayahnya ngga ada yang seperti ayah” jawab Bintang jujur, sang ayah hanya tersenyum. Dia tau Bintang masih anak-anak dan polos.
Sekarang Sinar tau apa yang harus dia tulis di kolom-kolom biodata tersebut. Dia fikir untuk apa malu? Toh kerjaan ayahnya halal dan mampu mencukupi kebutuhan mereka sekeluarga. Sang ibu yang sedang asik membersihkan botol bekas, hanya diam dan sesekali itu tertawa mendengar percakapan 3 orang yang dia sayangi itu.
Ke-esokan harinya saat Sinar menyerahkan biodata tersebut kepada bapak guru, guru tersebut sempat membaca baik-baik biodata keluarga Sinar, sebelum ditanya Sinar ngsung menjawab duluan. “Profesi ayah saya benar sebagai pemungut sampah kok pak” lalu bapak guru tersenyum. Awalnya teman-teman Sinar tidak ada yang mengetahui hal tersebut tetapi lama-kelamaan mereka tau dari mulut Sinar sendiri. Dan untunglah teman-temannya tetap bersikap biasa, karna Sinar memang terkenal sebagai murid yang baik, ramah, sederhana dan pintar. Sampai Sinar SMA dia tetap menjaga nama baiknya itu.
*****
Sekarang Sinar semakin dewasa dan sudah menjajaki kursi SMA. Sinar begitu terlihat cantik dengan kepribadiannya yang menarik dan kesederhanaan hidupnya membuat banyak cowo melirik-lirik manja ketika cewek berambut panjang hitam ini lewat. Salah satunya Rico, kakak kelas XI yang jelas-jelas naksir pada pandangan pertama saat MOS.
Rico keren, ganteng, anak basket, jago banget main gitar dan tajir melintir pula. Cewek mana yang ngga ingin jadi pacarnya? Saat Sinar tau si kakak kelas itu naksir dia Sinar tetap bersikap biasa. Walaupun sebenarnya dia juga suka dan seneng banget denger kabar itu. Banyak banget teman-teman terdekat Sinar yang mendukung sahabatnya itu dengan ka Rico. “Tapi kalo ka Rico tau aku cuma anak pemungut sampah, dia pasti akan ilfeel sama aku. Daripada aku sakit hati nanti lebih baik aku menjauh aja dari sekarang” fikirnya sambil memilah-milih barang bekas dari tumpukan karung-karung sampah samping rumahnya. Meskipun Sinar tinggal di daerah yang berprofesi sama seperti ayahnya dan selalu ber-urusan dengan sampah, rumah Sinar selalu tampak asri dan bersih. Karna keluarganya sangat mencintai lingkungan.
“Oh iya aku baru ingat! Ada tugas daur ulang. Ayah, Ibu bantu aku bikin barang daur ulang”
“Wah itusih gampang! Kan disini banyak barang bekas. Kamu pakai saja” kata ibunya.
“Tapi bagusnya bikin apa ya bu?”
“Bikin pesawaaaaaaaat!” teriak Bintang semangat
“Wah boleh-boleh. Ayah mau bantuin aku kan?” tanya Sinar pada sang ayah yang asik membaca koran. Kepala keluarga yang masih tampak segar bugar itu mengangguk gembira.
Lalu Sinar segera mengambil beberapa perlengkapan yang dibutuhkan, seperti kardus, botol, lem, gunting, benang, dan lain-lain. Mulailah tangan halusnya mengotak-atik barang bekas tersebut dengan bantuan ayahnya, disulaplah barang-barang yang sudah tidak terpakai itu menjadi mainan.
“Wah sudah jadi”
“Yah kalo begini sih ngga asik. Ngga bisa terbang” kata Bintang.
“Kalo kamu mau terbang. Terbangin aja sendiri” jawab Sinar.
“Seharusnya Ka Sinar berfikir, ayo gimana caranya biar pesawat itu bisa terbang” kata Ayah.
Sejak saat itu Sinar mulai berfikir. Buat apa selama ini barang-barang plastik yang ngga bisa hancur oleh tanah di anggurin saja? Malah membuat banyak nyamuk. Setiap hari ada saja sesuatu yang dikerjakan Sinar dibawah pohon belimbing yang di tanam ibu nya. Sinar semakin asyik dengan sampah-sampah yang ada di dekatnya itu. Tangan-tangan kreatif Sinar menciptakan vas bunga, kotak pensil, bingkai foto, kotak tisue, mobil-mobilan yang dia buat sendiri dengan imajinasinya. Dan lama-kelamaan itu menjadi hobi Sinar. Lalu sang ayah tertarik sekali dengan hobi Sinar itu, akhirnya ayahnya membelikan beberapa perlengkapan seperti cat, kuas, atau pernak-pernik lain untuk menjadikan barang itu bernilai jual tinggi. Bukan cuma itu, Sinar semakin penasaran dengan pesawat buatannya tempo lalu yang sampai sekarang tak kunjung terbang juga. Sekarang Sinar sudah kelas 2 SMA dan masuk jurusan IPA. Dan bukankah Fisika dapat membantunya? Oke Sinar belajar terus menerus lewat buku dan internet.
*****
Sudah 1tahun lamanya Rico mendamba-dambakan seorang Sinar. Kali ini Rico bener-benar ingin mengungkapkan perasaannya ke Sinar. Tanpa ragu saat bel pulang sekolah berbunyi, Rico langsung menjegat Sinar yang hendak pulang sekolah.
“Sinar, masuk!” menyuruh Sinar masuk ke dalam mobil Rico
“Ka Rico? Ngapain kak aku disuruh masuk? Emang mau kemana?”
“Aku mau anter kamu pulang”
“Oh, makasih ka. Ngga usah aku udah biasa pulang sendiri kok” Sinar berjalan pelan meninggalkan Rico. Tiba-tiba saja tangannya ditarik dan langsung masuk ke dalam mobil Rico.
“Ih ka Rico apa-apaan sih?”
“Rumah kamu di mana?” sambil tancap gas.
“Ngga, aku ngga mau ngasih tau rumah aku dimana. Ka Rico harus tau ya, aku ngga suka di paksa!”
Rico langsung mengernyitkan dahinya dan spontan menatap dalam mata Sinar yang terlihat begitu kesal.
“Maaf deh aku ngga bermaksud maksa kamu. Ada yang ingin aku katakan sama kamu Sinar”
“Mau ngomong apa? Langsung aja disini”
“Hem, oke. Kamu tau kan sejak kamu masuk sekolah kita, aku langsung suka sama kamu. Aku terus deketin kamu walaupun kamu cuek sama aku. Tapi sekarang? Buat aku waktu 1tahun itu cukup untuk nunggu kamu. Jadi aku ngga mau buang-buang waktu lagi”
“Maksud kakak?”
“Ya aku suka sama kamu. Aku sayang kamu! Dan aku mau kamu jadi pacar aku”
GLEK!! Sinar ngga nyangka kalau Ka Rico nekat juga. Beribu-ribu alasan ngga masuk akal mulai berterbangan di fikirannya untuk menolak Ka Rico 'Aduh Ka Rico jujur aku suka sama kakak, tapi apa jadinya nanti pas Ka Rico main kerumah ku? Aku ngga malu dengan profesi ayah, tapi aku takut Ka Rico memandang rendah keluarga ku' fikirnya saat itu.
“Gimana Nar? Kenapa kamu diam?” taya Rico lagi
“Ka Rico mau antar aku ke rumah kan? Yaudah sekarang anterin aku pulang dulu ya”
Mungkin ini saatnya Sinar menunjukkan ke Ka Rico dan bahkan teman-temannya. Walau bagaimanapun nanti semuanya akan tau, dan Sinar tetep menerima komentarnya nanti karna pergaulan remaja SMA pastinya lebih tinggi. Dan Sinar bukan sederajat dengan mereka yang sekolah di sekolah bergengsi ini. Awalnya Sinar ngga mau masuk sekolah itu, tapi sang ayah memaksa karna Sinar pintar dan mendapatkan beasiswa. Disepanjang perjalanan Sinar dan Rico hanya diam, mereka berbicara saat menunjukkan jalan saja. Lama-kelamaan Rico mulai bingung karena daerah yang dimasuki mobil mewah itu daerah kumuh.
“Kamu bener nih ngga salah jalan?”
“Iya bener. Aku mau nunjukkin sesuatu ke Ka Rico sebelum Ka Rico bener-bener nembak aku”
Beberapa saat kemudian.
“Turun ka, rumah aku di sana” sambil menunjuk rumahnya yang sedikit terhalang pohon belimbing dan banyak tumpukan sampah. “Ka Rico mau mampir?” lanjutnya.
“oh iya” sedikit heran.
Sesampainya di rumah, yang terlihat depan rumah adalah sampah plastik, walaupun banyak pohon di depan rumahnya tetapi sampah itu tetap saja mengganggu pemandangan orang yang baru melihatnya. Dirumah sepi, ayah dan ibunya masih berkeliaran di sepanjang jalan ibu kota. Sedangkan Bintang paling-paling main bola bersama temannya. Sinar mengajak Ka Rico masuk ke dalam dan menawarkan segelas air putih. Awalnya Rico sedikit menolak, karna dilihat dari luarnya aja seperti ini. Gimana dalamnya? Tapi sepertinya Sinar tau apa yang ada di fikiran Ka Rico, lalu dia berkata “Di dalem saja ka, tenang saja rumahku bersih kok”. Ka Rico langsung tidak enak hati mendengarnya. Dan WOW! Rico begitu terkejut melihat kerapihan dan bersihnya didalam rumah Sinar, apalagi di lemari pojokan sana jelas terlihat barang-barang yang indah karya keluarganya.
“Gimana Ka? Masih mau jadi pacar aku?”
“Kok kamu nanya nya gitu sih? Orang tua kamu kemana?”
Sinar cengengesan “Yaiyalah Ka aku nanya seperti itu, mana mau cowok keren kaya Ka Rico, jago main basket dan gitar, punya mobil serta jadi dambaan para cewek-cewek disekolah mau jadi pacar anak seorang pemungut sampah? Orang tua aku lagi melakukan pekerjaannya ka, yaitu memungut sampah”
Rico setengah melayang mendengar pujian dari Sinar, namun belum sampai terbang dia di jatuhkan dengan kalimat-kalimat akhir yang di ucapkan Sinar.
“Hehe kamu bisa saja. Oh jadi orang tua kamu tukang pungut sampah? Kok kamu bisa sekolah disekolah bergengsi dan terfavorit seperti sekolah kita?” kata Rico membuat Sinar diam sejenak “eh maaf ya kalo aku salah ngomong” lanjutnya.
“Santai aja lagi Ka. Iya awalnya juga aku ngga mau masuk sekolah itu, karna buat aku, aku sama sekali ngga pantas bergaul dengan kalian. Tapi ayah dan guru-guru ku di SMP memaksa karna mereka melihat prestasiku. Dan aku di janjikan mendapat beasiswa kalau sekolah disana. Jadi aku menerimanya dengan senang dan sedikit kuatir”
“Kuatir kenapa?”
“Aku takut teman-teman ku ngga bisa menerima kondisi keluarga ku ini”
“Oh, tapi kalau aku lihat mereka baik-baik saja berteman sama kamu”
“Karna mereka belum tau yang sebenarnya”
“Eh itu barang-barang daur ulang semua ya?” Tanya Rico mengalihkan pembicaraan.
“Iya Ka, buatan aku dan keluarga ku. Bagus ngga?”
“Wah bagus banget. Apalagi itu bingkai fotonya lucu”
“Kalo Ka Rico mau, ambil saja. Aku bisa kok buat lebih bagus dan lebih bayak lagi hehe”
“Wah maksih banget ya Nar. Eh iya sudah sore nih kayaknya aku harus pulang deh”
Setelah Ka Rico pergi dan berlalu tinggallah Sinar sendiri di rumah dan bingung harus berbuat apa setelah kejadian ini. Jelas terlihat Ka Rico kaget dan tidak bisa menerima kondisi keluarganya, Ka Rico yang menyatakan cinta nya tadi sepertinya sekarang sudah membuang jauh-jauh perasaan itu ke Sinar. Sinar hanya tersenyum dan memaklumi semuanya, dia juga sadar betul atas kondisinya. Namun terbesit dalam benaknya 'ternyata semua cowok sama' .
Hari ini sabtu dan besok minggu itu artinya libur sekolah. Saat libur kaya gini biasanya Sinar dan Bintang membantu kedua orang tuanya bekerja. Sekedar memungut-mungut sampah di taman-taman yang sejuk sekalian menambah bahan untuk karya-karya daur ulangnya. Tidak ada rasa malu sedikikitpun dalam diri mereka, walaupun orang-orang melihatnya dengan beraneka ragam exkspresi tapi Sinar terlihat enjoy karna hasilnya taman begitu terlihat bersih. Seandainya semua orang mau melakukan ini untuk dirinya sendiri. Di jamin 100% Jakarta pasti ngga akan banjir. Dan tidak ada yang namanya polusi udara. Dari pagi sampai sore Sinar dan Bintang mengelilingi taman di Ibu kota. Lalu tiba-tiba ada segerombolan yang dia kenal. Ya itu teman-temannya.
“Sinar?” tanya Vera
“Eh kalian, lagi main di taman ini?”
“Iya kita abis dari mall dan mampir duduk disini deh. Lo ngapain disini? Ya ampun bawa karung sampah segala” jawab Andin
“Tau ih bikin malu nama sekolah ajanih haha” celetuk Indah
“Hehe kalian nih ke mall aja kerjaannya. Gw biasa kok tiap minggu ke taman-taman sekitar sini ya gw bawa karung sampah ini ya untuk mungutin sampah-sampah disini”
“What?” kompak ketiga temannya kaget
“Haha kenapa? Gw dari pagi loh, sehat kali jalan terus apalagi sambil ngejaga kebersihan. Yaudah ya udah lumayan sore, gw sama adik gw mesti pulang dulu. Bye”
Tanpa bertele-tele lagi Sinar dan Bintang menaiki sepeda lalu pergi meninggalkan 3orang temannya tadi. Sedangakan ketiga temannya terheran-heran melihat Sinar. Selain pintar ternyata peduli lingkungan. Eh tapi? Apa benar itu Sinar yang mereka kenal? Fikiran mereka mulai berimajinasi sendiri.
*****
Esoknya seluruh keluarga Sinar sedang berkumpul mereka terlihat amat sangat sibuk dengan sampah-sampah itu. Ternyata mereka sedang mendaur ulang sampah organik dan non organik. Ayahnya yang jago dalam memperbaiki alat elektronik sedang mencoba mengotak-atik barang elektronik bekas yang didapatnya kemarin. Ibunya sedang mengumpulkan semua sampah oraganik. Memotongnya menjadi bagian-bagian kecil lalu mengendapkannya di dalam bak besar yang tertutup dengan sedikit mikroorganisme sampah-sampah itu di busukkan dan di biarkan selama beberapa hari. Setelah mengeluarkan air maka air itulah yang menjadi pupuk organik dan berkhasiat menyehatkan tanaman-tanaman di sekitar rumahnya. Sedangkan Bintang sedang membantu Sinar mendaur ulang kertas. Ini memang sangat mudah dan siapa saja mungkin bisa melakukannya. Kertas-kertas bekas di hancurkan dengan cara di blender dengan air. Setelah halus seperti bubur, kertas bubur itu di tuang ke dalam wadah dan di campurkan lem agar mereka bersatu. Lalu di cetak menjadi benda yang kita inginkan. Lalu tunggu hingga kering. Setelah itu Sinar mengecatnya dan menjadikan benda yang cantik.
Saat semuanya sedang sibuk, tidak disangka ternyata Ka Rico dan 3orang temannya datang ke rumahnya. Ini sangat mengagetkan.
“Sinar” panggil Vera
“Eh kok kalian ada disini?”
“Iya nih Ka Rico yang ngajak. Em Nar, ini bener rumah lo?” tanya Indah ragu.
“Haha yaiyalah kalo ngga ngapain gw disini? Kenapa kalian kaget ya? Apa kalian malu punya temen kaya gw”
Andin langsung menyikut lengan Indah “Ya enggaklah Sinar. Kita bangga kali punya temen yang cinta lingkungan gini” kata Andin lalu merangkul sahabatnya.
“Ka Rico kok diem aja sih?” bisik Indah. Lalu Rico kaget.
“Eh iya Sinar kamu lagi ngapain?”
“Gubrak!! Kenapa nanya nya itu sih ka?” celetuk Vera
“Ada apa sih?” tanya Sinar heran.
Lalu ketiga temannya meninggalkan mereka berdua untuk menemui adik dan kedua orang tua Sinar. Mereka malah ikut membantu membuat barang daur ulang dan terlihat begitu bingung karna mereka ngga tau apa-apa. Justru malah Bintang yang masih kelas 5 SD ngajarin mereka.
“Hem, aku nungguin jawaban kamu” tanya Rico
“Jawaban apa ka?”
“Ya kamu mau ngga jadi pacar aku?”
“Oh ya ampun ternyata Ka Rico serius sama aku? Aku fikir setelah Ka Rico tau yang sebenarnya Ka Rico ilfeel sama aku. Hehe”
“Ya enggaklah. Aku malah bangga loh sama kamu dan keluarga kamu. Keluarga yang benar-benar cinta lingkungan dan kalian ngelakuin semua ini dengan ikhlas, tulus bahkan ngga ada rasa malu sedikitpun. Coba lihat kalo ngga ada orang-orang seperti kalian mungkin kota ini sudah dipenuhi semua sama sampah”
“Hahaha Ka Rico berlebihan deh”
“Yeh malah ketawa, jadi gimana?”
“Hem. Oke deh”
“Srius?
“Iyaaaaaaaa”
“Asik! Aku mau ya di ajarin buat barang daur ulang” Lalu Sinar mengangguk
“Nar, banyak banget barang-barang daur ulang lo. Gimana kalau kita jual semua ini? Pasti laku dan mengahasilkan banyak uang” Sahut Indah, sedangkan Andin dan Vita meng-iya-kan.
Oke setelah pamit ke orang tua Sinar mereka ber-lima pergi dengan membawa barang daur ulang yang banyak dan cantik-cantik. Mereka begitu semangat menawarkan produk buatan Sinar dan keluarganya ini. Tidak di sangka banyak orang yang menggemari barang-barang bekas ini dan hobi Sinar menghasilkan uang yang lumayan. Setelah ini Sinar berfikir. Apa yang harus dia lakukan dengan uang-uang hasil tangannya ini? Tiba-tiba saja sang ayah memberikan solusi yang great!
“Ka, gimana kalau uangnya buat modal kita membeli peralatan untuk daur ulang kertas dan pupuk organik? Kamu kan sudah paham betul, lalu kamu jelaskan ke warga sekitar sini”
“wah ayah! Bagus yah bagus. Kalau gitu besok ayah tolong beliin semuanya ya yah” jawab Sinar semangat dan dengan senang hati ayahnya mengangguk.
Ternyata teman-temannya pun senang membuat barang daur ulang. Disekolah mereka jadi lebih mengerti soal sampah, mana yang organik dan non-organik. Mereka juga jadi ngga membuang sampah sembarangan lagi bahkan kalau melihat ada sampah didepan mereka, langsung di punggut dan diletakkan ke tempat sampah sesuai jenisnya. Lalu ide-ide lain bermunculan di otak Sinar, sebagai ketua KIR (Karya Ilmiah Remaja) di sekolah kenapa ngga Sinar ajarkan saja ke teman-teman satu ekstrakulikulernya itu? Apalagi membantu dia dalam membuat pesawat daur ulangyang bisa terbang, guru fisika dan kimia pasti mau membantu nih. Dan setelah di coba, responnya sangat baik. Guru-guru pun ikut mendukung. Dan sejak saat itu sekolah mereka melakukan gerakan GO GREEN dengan demo yang di pimpin Sinar sendiri. Mengubah pola kehidupan menjadi lebih baik, seperti misalnya setiap anak disarankan lebih baik membawa bekel makanan dan minuman sendiri dari rumah, atau membeli makanan atau minuman di wadah yang berbahan dasar kertas, atau memakannya langsung menggunakan piring kantin. Lebih baik kalau mereka membawa tempat makan kosong dari rumah. Dengan begitu penggunaan sterofoam dan plastik yang tidak hancur oleh tanah dan menyebabkan lapisan ozon menipis dapat berkurang, selain itu masakan dirumah jauh lebih menyehatkan daripada di luar rumah.
Selain itu setiap siswa mengumpulkan dedaunan yang jatuh dari pohon, lalu mengumpulkan dan mengendapan di bak yang telah disediakan. Dengan bantuan mikroorganisme, sampah dedaunan yang sudah busuk dapat di jadikan pupuk untuk pohon-pohon yang ada di sekolah. Sampah-sampah non-organik seperti botol bekas juga di daur ulang dengan iming-iming setiap siswa yang dapat menyulap bahan plastik bekas itu menjadi barang yang bisa di pakai lagi akan mendapat uang dari sekolah.
Perhatian siswa-siswi sekolah pun tertuju pada 5orang anak yang berangkat sekolah menggunakan sepeda, ya siapalagi kalau bukan Rico, Sinar, Vita, Indah dan Andin. Memberikan contoh ke teman-teman mereka bahwa bersepeda itu lebih baik dan menyehatkan. Selain mengurangi polusi udara, tubuh juga menjadi sehat karna selalu bergerak. Tanpa ragu mereka mengajak semuanya untuk bersepeda. Semua ide-ide kreatif itu mendapat dukungan penuh dari semua pihak di sekolah. Dan semuanya bangga dengan Sinar, siswa yang sederhana, pandai dan ternyata bisa membawa perubahan pada diri dan lingkungan hidupnya. Sinar dan keluarganya juga mengajarkan semua itu ke warga sekitar rumah. Jika semua orang dapat berbuat seperti ini, dan mewariskan ke anak dan cucu mereka nanti, tentu bumi akan tetap lestari dan menyanyangi kita. Ayah Sinar sepertinya sudah merencanakan matang-matang untuk pindah ke Ibu kota dan dengan menjadi pemungut sampah ini, beliau dapat mendidik anak-anaknya hingga sedemikian bermanfaat bagi semuanya. Pekerjaan yang di anggap rendah ini sebenarnya sangat mulia dan tinggi derajatnya. Sampah juga begitu, kalau satu memang sangat di anggap remeh, tetapi apakah kalian sadar kalau sampah berdampak besar jika di diamkan terus menerus? Tetapi bukan berarti kita berdiam diri, karna sampah dapat di atasi dengar berbagai macam solusi ya seperti yang dilakukan Sinar dan keluarganya. Semoga dengan menyajikan ini kita semua bisa sadar dan memahami betul apa yang dibutukan bumi kita agar tetap terjaga dan indah.
END